Sudah Turun Dan Negosiasi, Aparat Malah Dilempari Batu: Polisi Terpaksa Lepas Tembakan Peringatan Di Bathin II Pelayang
BUNGO — Upaya kepolisian meredam aksi pemblokiran jalan di Dusun Bathin II Pelayang, Kecamatan Bathin II Pelayang, Kabupaten Bungo, justru berujung ketegangan. Aparat yang datang untuk melakukan pendekatan dan negosiasi bersama masyarakat diduga menjadi sasaran pelemparan batu.
Kapolres Bungo AKBP Zamri Elfino, S.I.K., M.H., bahkan turun langsung ke lokasi. Bersama jajaran, Kapolres berupaya membuka ruang dialog dengan masyarakat dan mencari solusi atas tuntutan warga terkait aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Dalam proses negosiasi, kepolisian disebut telah berusaha menenangkan situasi dan mendengarkan tuntutan masyarakat. Warga meminta aktivitas PETI yang diduga menyebabkan aliran Sungai Batang Tebo menjadi keruh segera ditertibkan.
Namun, situasi berubah ketika diduga salah seorang dari massa melakukan pelemparan batu ke arah aparat kepolisian yang sedang berada di lokasi untuk melakukan negosiasi.
Pelemparan tersebut membuat situasi semakin tegang. Aparat kemudian mengambil langkah pengamanan dengan melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk meredam massa dan mencegah kericuhan semakin meluas.
Dengan demikian, posisi aparat di lapangan bukan semata melakukan pengamanan, tetapi sebelumnya telah berupaya menyelesaikan persoalan melalui jalur komunikasi dan negosiasi bersama masyarakat.
Di tengah ketegangan tersebut, warga juga menyampaikan tuntutan agar seorang warga yang sebelumnya diamankan karena diduga melakukan aktivitas penambangan emas tanpa izin menggunakan mesin Robin dilepaskan.
Sementara tuntutan lainnya adalah penertiban aktivitas PETI yang dinilai masyarakat telah berdampak terhadap kondisi Sungai Batang Tebo.
Kapolsek Bathin II Pelayang Iptu Afandi Anora, S.H., dalam proses mediasi disebut telah menyampaikan kesediaan untuk menindaklanjuti tuntutan penertiban tersebut dan meminta waktu untuk melakukan langkah-langkah sesuai kewenangan kepolisian.
Peristiwa pelemparan batu terhadap aparat menjadi titik balik suasana di lokasi. Upaya negosiasi yang semula ditempuh untuk mencari jalan keluar justru berubah menjadi situasi yang memerlukan tindakan pengamanan.
Kini, penyelesaian persoalan di Bathin II Pelayang tidak hanya menyangkut tuntutan masyarakat terhadap aktivitas PETI, tetapi juga bagaimana seluruh pihak dapat menahan diri agar konflik tidak semakin melebar.
Polisi telah turun langsung, membuka ruang dialog, dan berupaya bernegosiasi. Namun ketika aparat diduga menjadi sasaran pelemparan, situasi pun berubah dari meja negosiasi menjadi kondisi yang membutuhkan tindakan pengamanan.(Tim)














